Gonjang-ganjing penghancuran KPK kembali berhembus.
Lembaga superbody tak urung berhenti tertimpah
bencana. Angin ternado selalu bertiup kencang. Upaya penuntasan kasus-kasus
korupsi besar tidak dikehendaki para perampok uang negara.
Isu
penghacuran KPK jilid III sudah lama berhembus. Oknum yang tidak menginginkan KPK
Jilid III berhasil tidak pernah mati akal. Bila isu penghancuran dari luar KPK
(baca: merevisi UU KPK) tidaklah mempan. Kini Abraham Samad yang telah
menahkodai KPK kembali digoyang dari dalam (baca: Internal KPK).
Gaya kepemimpinan sosok Abraham
Samad menuai protes. Sikap inilah yang kemudian semakin meruncing menjadi isu
keretakan para pimpinan KPK. Runcingnya permasalahan di internal KPK berawal dari
penentuan status tersangka kasus korupsi besar. Sempat terjadi aksi pukul meja
kala pimpinan KPK yang bersifat kolektif kolegial akan meningkatkan status Angelina
Sondakh menjadi tersangka. Busyro Muqoddas tidak sepakat atas keputusan Abraham
Samad yang dianggap terlalu cepat. Apalagi pada saat Abraham Samad mengumumkan
Angelina Sondakh menjadi tersangka baru kasus suap Wisma Atlet tanpa melalui
proses ekspos penetapan tersangka terlebih dahulu.
Hal
yang serupa juga terjadi pada saat penentuan Miranda S Goeltom menjadi
tersangka suap cek pelawat Pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Sekali
lagi salah satu pimpinan KPK tidak sepakat atas penetapannya (baca:Miranda S
Goeltom). Penetapan tersangka baru kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi
Gubernur Senior Bank Indonesia terlalu terburu-buru.
“Penghilangan” Abraham Samad
Senin
(12/3/2012), puluhan penyidik KPK mendatangi ruang kerja ketua KPK. Mereka
memprotes sikap kepemimpinan Abraham Samad (baca:ketua KPK) yang arogan dalam
memimpin lembaga KPK. Penyidik KPK merasa gerah atas tindakan Abraham Samad
yang memulangkan rekan-rekan mereka.
Aksi
protes penyidik KPK semakin memperlihatkan eksistensi perpecahan di internal
lembaga pemberantasan korupsi ini. Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB)
Adhie M Massardi mengatakan mencuatnya gejolak di tubuh KPK membawa berkah.
Sekarag kita jadi tahu bahwa pertikaian di antara pimpinan KPK benar-benar ada,
bukan sekedar isu. Saya yakin Abraham Samad yang ingin memberantas korupsi di
lingkaran kekuasaan mendapatkan rintangan serius dari orang-orang KPK lama.
Abraham
Samad beserta pimpinan KPK langsung mengadakan konfrensi pers di kantor KPK,
kamis 15 Maret 2012. Mereka (baca: pimpinan KPK) membatah soal aksi protes yang
dilakukan penyidik KPK. Penyidik KPK hanya mempertanyakan soal pemulangan
rekan-rekan mereka. Atas tindakan tersebut Abraham Samad melihat adanya
skenario untuk menghilangkan dirinya di KPK.
Sikap
Abraham Samad, hemat penulis merupakan upaya bersih-bersih di internal KPK. Hal
tersebut wajar karena KPK jilid III haruslah lebih kencang dalam menuntaskan
kasus-kasus korupsi dibandingkan dengan KPK sebelumnya. Beberapa penyidik yang
dipulangkan ke Mabes Polri dan Kejaksaan, tentunya Abraham Samad memiliki
alasan. Salah satu alasan pemulangan
penyidik KPK karena adanya indikasi kedekatan dengan tersangka kasus korupsi
yang sementara ditangani.
UU
Nomor 30 Tahun 2002 juga mengatur tentang kewenangan KPK untuk merekrut dan
memberhentikan penyidik KPK. Sehingga pemulangan penyidik KPK (Hendy Kurniawan,
Moch Irwan Susanto, Rosmaida, Afief Y Miftah, serta seorang jaksa Dwi Aries
Sudarto) tidaklah bertentangan dengan undang-undang.
Pemulangan
penyidik KPK pernah terjadi sebelumnya. Mungkin masih ada yang ingat kisah
cinta Angelina Sondakh dengan penyidik KPK Komisaris Besar Raden Brotoseno.
Dimana hubungan kedekatan mereka ditakutkan akan terjadi konflik kepentingan
nantinya. Sama halnya dengan beberapa orang penyidik KPK yang tiba-tiba ditarik
ke Mabes Polri karena tercium aroma kedekatan dengan tersangka Nunun Nurbaeti.
Upaya
bersih-bersih Abraham samad haruslah
kita dukung. Sikap tersebut bukan suatu sikap arogansi sebagai seorang ketua
KPK. Isu perpecahan di internal KPK jangan semakin diperkeruh. Skenario
penghancuran KPK baik dari luar maupun dari tubuh KPK, merupakan upaya
menghilangkan Abraham Samad. Sosok yang sampai sekarang memiliki niatan baik
untuk memberantas korupsi. Tentunya penulis dan seluruh rakyat Indonesia
sepakat kalau untuk membersihkan lantai kotor, maka harus menggunakan sapu yang
bersih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar